Digagas Sejak 1973, Proyek Air Umbulan Akhirnya Dimulai
Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan, Kabupaten Pasuruan, akan segara direalisasikan. Penandatanganan Kontrak Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KKPBU) SPAM Umbulan ini akan dilaksanakan pada akhir Juli 2016.
“Keputusan diambil saat Rapat Koordinasi Kemajuan Proyek SPAM Umbulan yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, kemarin,” kata Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf, Kamis (14/7/2016).
Bupati Irsyad hadir dalam rapat koordinasi yang juga dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sofjan Djalil, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, perwakilan dari Kabupaten Gresik, Kotamadya Surabaya, Kotamadya Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo.
debit umbulanKKPBU SPAM Umbulan ini merupakan proyek pertama yang tersulit karena melibatkan banyak kabupaten/kota. Proyek penyediaan air Umbulan sudah digagas sejak 1973. Namun karena banyaknya kendala proyek ini akhirnya berlarut-larut dan baru akan dimulai.
SPAM Umbulan melibatkan Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik dengan total nilai investasi sebesar Rp 2,05 triliun (di luar pengadaan tanah).
“Produksi SPAM Umbulan sebesar 4.000 liter/detik akan menjadi sumber air minum bagi kurang lebih 1,3 juta jiwa di 5 daerah,” pungkas Irsyad.
Sumber :
http://www.wartabromo.com/2016/07/14/digagas-sejak-1973-proyek-air-umbulan-akhirnya-dimulai/
Friday, July 15, 2016
Sunday, April 17, 2016
Apel Pasuruan
Apel Pasuruan Mampu Kuasai Pasar Nasional
Keberadaan buah apel identik dengan nama Kota Malang maupun Kota Batu. Padahal sebenarnya buah apel tidak saja dimiliki Malang atau Batu saja. Di Kabupaten Pasuruan juga memiliki daerah khusus apel yang tidak kalah kualitasnya dengan kedua nama besar tersebut. Seperti di Kecamatan Tutur atau Nongkojajar dan Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan.
Di Kecamatan Tutur memiliki berbagai jenis apel unggulanseperti apel Manalagi, apel Anna dan apel Rhona Beauty. Apel Tutur dan Puspo sekarang ini telah menguasai pasaran di Malang, Batu, Bali hingga Semarang, Surabaya serta Jakarta. “Kabupaten Pasuruan sekarang ini memiliki 2.891.640 pohon apel,” ungkap Ihwan Khairat, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan.
Pohon sebanyak itu, Kabupaten Pasuruan mampu memproduksi apel setiap tahunnya sebanyak 150.059 ton. Setiap pohon mampu menghasilkan buah sebanyak 51.89 kilogram. Dalam satu tahunnya apel mampu panen dua kali yakni antara Januari – Maret dan Juli – Agustus. Diakui Ihwan Khairat, selama ini branding buah apel masih kalah dengan Malang dan Batu.
Seperti disampaikan Ihwan Khairat, pihaknya memacu para petani apel untuk terus mengikuti berbagai pameran-pameran di luar daerah. Tujuan utamanya adalah menciptakan branding apel dari Pasuruan.
“Kabupaten Pasuruan ini memiliki lima hasil pertanian yang menjadi unggulan. Diantaranya, bunga krisan, bunga sedap malam, buah apel dan kentang,” papar Ihwan.
Masih kata Ihwan, program yang dapat diberikan pemerintah kepada petani adalah membantu kemasan merk Kabupaten Pasuruan. Sehingga bagi pengunjung atau tengkulak luar daerah tetap membawa merk Pasuruan dan bukan daerahnya. Seperti nama Malang dan Batu. Selain memberikan kemasan bermerk Pasuruan, dinas juga menggelar berbagai event untuk mengenalkan apel Pasuruan, yaitu festival apel.
Sumber :
http://www.beritametro.co.id/pasuruan/apel-pasuruan-mampu-kuasai-pasar-nasional
Keberadaan buah apel identik dengan nama Kota Malang maupun Kota Batu. Padahal sebenarnya buah apel tidak saja dimiliki Malang atau Batu saja. Di Kabupaten Pasuruan juga memiliki daerah khusus apel yang tidak kalah kualitasnya dengan kedua nama besar tersebut. Seperti di Kecamatan Tutur atau Nongkojajar dan Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan.
Di Kecamatan Tutur memiliki berbagai jenis apel unggulanseperti apel Manalagi, apel Anna dan apel Rhona Beauty. Apel Tutur dan Puspo sekarang ini telah menguasai pasaran di Malang, Batu, Bali hingga Semarang, Surabaya serta Jakarta. “Kabupaten Pasuruan sekarang ini memiliki 2.891.640 pohon apel,” ungkap Ihwan Khairat, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan.
Pohon sebanyak itu, Kabupaten Pasuruan mampu memproduksi apel setiap tahunnya sebanyak 150.059 ton. Setiap pohon mampu menghasilkan buah sebanyak 51.89 kilogram. Dalam satu tahunnya apel mampu panen dua kali yakni antara Januari – Maret dan Juli – Agustus. Diakui Ihwan Khairat, selama ini branding buah apel masih kalah dengan Malang dan Batu.
Seperti disampaikan Ihwan Khairat, pihaknya memacu para petani apel untuk terus mengikuti berbagai pameran-pameran di luar daerah. Tujuan utamanya adalah menciptakan branding apel dari Pasuruan.
“Kabupaten Pasuruan ini memiliki lima hasil pertanian yang menjadi unggulan. Diantaranya, bunga krisan, bunga sedap malam, buah apel dan kentang,” papar Ihwan.
Masih kata Ihwan, program yang dapat diberikan pemerintah kepada petani adalah membantu kemasan merk Kabupaten Pasuruan. Sehingga bagi pengunjung atau tengkulak luar daerah tetap membawa merk Pasuruan dan bukan daerahnya. Seperti nama Malang dan Batu. Selain memberikan kemasan bermerk Pasuruan, dinas juga menggelar berbagai event untuk mengenalkan apel Pasuruan, yaitu festival apel.
Sumber :
http://www.beritametro.co.id/pasuruan/apel-pasuruan-mampu-kuasai-pasar-nasional
Friday, November 13, 2015
Kopi Suwuk Khas Pasuruan
Menikmati Aroma Kopi Suwuk Khas Pasuruan
Mungkin belum banyak yang mengenal jenis kopi robusta dari Pasuruan. Buah kopinya berwarna merah dan tumbuh subur di lereng pegunungan di Des Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur.
Bagi warga sekitar jenis kopi ini dikenal dengan nama kopi petik merah atau kopi suwuk. Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Jumat (7/8/2015), terdapat hampir 30 hektare kebun kopi suwuk yang kini mulai dikelola sebagai agrowisata.
Berbeda dengan jenis lain, kopi suwuk terasa lebih segar dengan aroma yang kuat. Karena itu kopi ini banyak diminati di pasar Asia seperti Jepang, Malaysia, dan Singapura.
Pada musim kemarau, kopi suwuk justru tumbuh lebih berkualitas. Para wisatawan berdatangan khusus untuk melihat langsung pemetikan biji kopi hingga proses pengolahannya.
Sembari menikmati secangkir kopi panas, wisatawan juga bisa melihat pemandangan eksotik Gunung Bromo. Tak salah bila agrowisata ini menjadi alternatif pilihan liburan di akhir pekan Anda.
Sumber:
http://tv.liputan6.com/read/2288560/menikmati-aroma-kopi-suwuk-khas-pasuruan
http://www.beritatrans9.com/?p=8438
Mungkin belum banyak yang mengenal jenis kopi robusta dari Pasuruan. Buah kopinya berwarna merah dan tumbuh subur di lereng pegunungan di Des Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur.
Bagi warga sekitar jenis kopi ini dikenal dengan nama kopi petik merah atau kopi suwuk. Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Jumat (7/8/2015), terdapat hampir 30 hektare kebun kopi suwuk yang kini mulai dikelola sebagai agrowisata.
Berbeda dengan jenis lain, kopi suwuk terasa lebih segar dengan aroma yang kuat. Karena itu kopi ini banyak diminati di pasar Asia seperti Jepang, Malaysia, dan Singapura.
Pada musim kemarau, kopi suwuk justru tumbuh lebih berkualitas. Para wisatawan berdatangan khusus untuk melihat langsung pemetikan biji kopi hingga proses pengolahannya.
Sembari menikmati secangkir kopi panas, wisatawan juga bisa melihat pemandangan eksotik Gunung Bromo. Tak salah bila agrowisata ini menjadi alternatif pilihan liburan di akhir pekan Anda.
Sumber:
http://tv.liputan6.com/read/2288560/menikmati-aroma-kopi-suwuk-khas-pasuruan
http://www.beritatrans9.com/?p=8438
Friday, August 14, 2015
Tretes Carnival
Puluhan Peserta Semarakkan Tretes Carnival
Sebanyak 70 peserta semarakkan Festival Tretes Carnival, yang berlangsung di kawasan Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Acara ini merupakan bagian dari serangkaian agenda Tretes Night Run 2015.
Berdasarkan pantauan beritajatim.com para peserta Festival Tretes Carnival tersebut menempuh perjalanan sejauh tiga kilometer dengan kondisi jalan menanjak. Yakni, mulai dari Hotel Tretes View, Tretes, hingga depan Hotel Surya, yang jaraknya kurang lebih mencapai 4 kilometer.
Tentu saja para peserta yang rata rata menggunakan busana warna warni dan berkilau serta berjalan lenggak lenggok itu mendapat reaksi positif dari penonton.
Sementara itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Pasuruan, Lukas Cahya Buana mengatakan, kegiatan ini juga merupakan awal dari serangkaian agenda dalam memperingati HUT Kabupaten Pasuruan yang ke-1086.
Festival Tretes Carnival Dibanjiri Peserta
Festival Tretes Carnival merupakan bagian dari serangkaian agenda Tretes Night Run itu mengambil start dari Hotel Royal Tretes View, kawasan Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Para peserta Festival Tretes Carnival tersebut akan menempuh perjalanan sejauh tiga kilometer dengan kondisi jalan menanjak. Yakni mulai dari Hotel Royal Tretes View, hingga depan Hotel Surya, yang jaraknya kurang lebih mencapai 4 kilometer.
"Kami sangat bangga dengan adanya momen yang kali pertama ini digelar di sini. Sebab event ini begitu semarak menjelang peringatan HUT RI ke 70 tahun ini," ujar Fatimah salah satu warga yang menonton acara ini, saat ditemui beritajatim.com di lokasi, Jumat sore (14/08/2015).
Dengan adanya berbagai event di Tretes ini, pihaknya berharap kawasan tersebut bisa menjadi rujukan banyak wisatawan sebagai wisata keluarga yang sesungguhnya.
Peserta Semarakkan Tretes Carnival
Sebanyak 50 Peserta semarakkan Tretes Carnival, Jumat (14/8/2015) siang. Acara yang merupakan bagian dari serangkaian agenda Tretes Night Run itu, berlangsung pada pukul 14.30 WIB.
Para peserta Tretes Carnival itu akan menempuh perjalanan selama tiga kilometer dengan kondisi jalan menanjak. Yaitu mulai dari Hotel Tretes View, Tretes, Kabupaten Pasuruan hingga depan Hotel Surya, Tretes, Kabupaten Pasuruan.
Ketua Badan Promosi Pariwisata (BPP) Kabupaten Pasuruan, Lukas Cahya Buana, dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini juga merupakan awal dari serangkaian agenda dalam memperingati HUT Kabupaten Pasuruan ke-1086.
"Semoga dengan acara ini bisa menyemarakkan tretes sebagai wisata keluarga yang sesungguhnya," katanya.
Sumber :
http://duta.co/blog/festival-tretes-carnival-dibanjiri-peserta
http://www.jatimtimes.com/baca/102388/20150814/153012/50-peserta-semarakkan-tretes-carnival-/
http://beritajatim.com/gaya_hidup/245236/puluhan_peserta_semarakkan_tretes_carnival.html#.Vc519fmqqko
Thursday, August 6, 2015
Candi Gunung Gangsir
Simbol Kemakmuran Peninggalan Majapahit
Candi Gununggangsir yang berdiri tegak di Desa Keboncandi, Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu situs sejarah peninggalan kerajaan Majapahit yang dibangun oleh Empu Sendok pada abad ke-10 sebelum Masehi.
Candi Gununggangsir dibangun untuk tempat pemujaan pada para dewa yang beragama Hindu. Candi yang berukuran panjang 20 meter, lebar 17 meter, tinggi sekitar 23 meter dan menempati tanah seluas 86 meter persegi merupakan perwujudan rasa syukur warga yang telah diberikan kemakmuran berupa melimpah ruahnya hasil panen.
Candi Gununggangsir sebagai simbol kemakmuran terbukti dengan ornamen candi yang pada setiap sisi-sisinya banyak ditemui relief bergambar tanaman seperti padi, kapas dan palawija serta gambar hewan seperti bulus, gajah, buaya, babi, anjing, kuda terbang yang dipercaya merupakan lambang kemakmuran.
Candi Gununggansir sendiri dibangun menggunakan batu bata merah dan berbentuk segi empat bertingkat, makin keatas semakin mengencil (Pagoda). Sedangkan di dalam candi terdapat tempat ruangan yang berukuran 5 X 5 meter persegi.candi-gununggansir
Konon, daerah ini merupakan tanah yang sangat subur, sayangnya masyarakat setempat tidak mengerti cara mengelolanya dan hanya mengandalkan makan dari hasil berburu binatang saja.
Pada saat hewan buruan semakin sedikit dan masyarakat kesulitan mendapatkan bahan pangan. Datanglah seorang perempuan yang bernama Nyai Srigati yang kemudian dikenal dengan nama Mbok Rondo Dermo. Saat itu, dirinya mengajak warga untuk bersemedi meminta petunjuk pada Hyang Widi Wasa guna mengatasi masa sulit pangan di daerahnya.
Dari hasil semedinya tersebut, diberilah petunjuk dengan datangnya seekor burung gelatik yang membawa biji padi dan dijatuhkan ke bawah. Saat itu juga biji padi tersebut berbuah. Tak hanya itu saja, burung gelatik juga menjatuhkan beberapa biji-bijian yang kemudian berbuah biji emas. Hingga Mbok Rondo Dermo beserta pengikutnya menjadi kaya raya.
Atas petunjuk tersebut warga mulailah bercocok tanam dan merubah kebiasaannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari berburu menjadi petani. Hingga akhirnya daerah ini menjadi makmur dan masyarakat membangun candi ini untuk mengucap rasa syukur pada Hyang Widi Wasa.
Kini, berdasarkan penututan Nurjanah (53) sang Juru Pelihara candi, Candi Gununggangsir banyak dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah, mulai dari hanya sekedar rekreasi, penelitian sejarah sampai melakukan ritual untuk keperluan khusus.
“Biasanya pada malam hari jum’at legi banyak dikunjungi masyarakat yang ingin melakukan ritual, bahkan tak jarang dari ritual tersebut masyarakat mendapatkan biji emas di tempat semedinya,”ujar Nurjanah.
Keberadaan Candi Gununggangsir sendiri sudah mengalami pemugaran yang dilakukan oleh pihak Dinas Purbakala dengan memakan waktu 9 tahun lamanya, dimulai pada tahun 2004 dan selasai pada akhir tahun 2013 lalu.
Bagi Anda yang ingin melihat langsung salah satu situs sejarah kejayaan Majapahit ini, lokasi Candi Gununggangsir dari arah Surabaya sekitar 55 Kilometer sementara dari arah Pasuruan atau dari Pusat Kota Bangil hanya berjarak 15 Kilometer.
Sumber :
http://www.wartabromo.com/2014/05/04/candi-gununggansir-simbol-kemakmuran-peninggalan-majapahit/
Candi Gununggangsir yang berdiri tegak di Desa Keboncandi, Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu situs sejarah peninggalan kerajaan Majapahit yang dibangun oleh Empu Sendok pada abad ke-10 sebelum Masehi.
Candi Gununggangsir dibangun untuk tempat pemujaan pada para dewa yang beragama Hindu. Candi yang berukuran panjang 20 meter, lebar 17 meter, tinggi sekitar 23 meter dan menempati tanah seluas 86 meter persegi merupakan perwujudan rasa syukur warga yang telah diberikan kemakmuran berupa melimpah ruahnya hasil panen.
Candi Gununggangsir sebagai simbol kemakmuran terbukti dengan ornamen candi yang pada setiap sisi-sisinya banyak ditemui relief bergambar tanaman seperti padi, kapas dan palawija serta gambar hewan seperti bulus, gajah, buaya, babi, anjing, kuda terbang yang dipercaya merupakan lambang kemakmuran.
Candi Gununggansir sendiri dibangun menggunakan batu bata merah dan berbentuk segi empat bertingkat, makin keatas semakin mengencil (Pagoda). Sedangkan di dalam candi terdapat tempat ruangan yang berukuran 5 X 5 meter persegi.candi-gununggansir
Konon, daerah ini merupakan tanah yang sangat subur, sayangnya masyarakat setempat tidak mengerti cara mengelolanya dan hanya mengandalkan makan dari hasil berburu binatang saja.
Pada saat hewan buruan semakin sedikit dan masyarakat kesulitan mendapatkan bahan pangan. Datanglah seorang perempuan yang bernama Nyai Srigati yang kemudian dikenal dengan nama Mbok Rondo Dermo. Saat itu, dirinya mengajak warga untuk bersemedi meminta petunjuk pada Hyang Widi Wasa guna mengatasi masa sulit pangan di daerahnya.
Dari hasil semedinya tersebut, diberilah petunjuk dengan datangnya seekor burung gelatik yang membawa biji padi dan dijatuhkan ke bawah. Saat itu juga biji padi tersebut berbuah. Tak hanya itu saja, burung gelatik juga menjatuhkan beberapa biji-bijian yang kemudian berbuah biji emas. Hingga Mbok Rondo Dermo beserta pengikutnya menjadi kaya raya.
Atas petunjuk tersebut warga mulailah bercocok tanam dan merubah kebiasaannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari berburu menjadi petani. Hingga akhirnya daerah ini menjadi makmur dan masyarakat membangun candi ini untuk mengucap rasa syukur pada Hyang Widi Wasa.
Kini, berdasarkan penututan Nurjanah (53) sang Juru Pelihara candi, Candi Gununggangsir banyak dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah, mulai dari hanya sekedar rekreasi, penelitian sejarah sampai melakukan ritual untuk keperluan khusus.
“Biasanya pada malam hari jum’at legi banyak dikunjungi masyarakat yang ingin melakukan ritual, bahkan tak jarang dari ritual tersebut masyarakat mendapatkan biji emas di tempat semedinya,”ujar Nurjanah.
Keberadaan Candi Gununggangsir sendiri sudah mengalami pemugaran yang dilakukan oleh pihak Dinas Purbakala dengan memakan waktu 9 tahun lamanya, dimulai pada tahun 2004 dan selasai pada akhir tahun 2013 lalu.
Bagi Anda yang ingin melihat langsung salah satu situs sejarah kejayaan Majapahit ini, lokasi Candi Gununggangsir dari arah Surabaya sekitar 55 Kilometer sementara dari arah Pasuruan atau dari Pusat Kota Bangil hanya berjarak 15 Kilometer.
Sumber :
http://www.wartabromo.com/2014/05/04/candi-gununggansir-simbol-kemakmuran-peninggalan-majapahit/
Sunday, August 2, 2015
Investasi di Kota Pasuruan
Potensi pengembangan perekonomian di Kabupaten Pasuruan
Posisinya yang berada di jalur segitiga emas Jawa Timur (Malang, Surabaya, Banyuwangi) cukup menjanjikan bagi investor yang ingin menanamkan modal. Pakar statistik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kresnayana Yahya mengungkapkan, dengan angka pertumbuhan ekonomi yang rata-rata di atas 7% sejak 2007, Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu kawasan strategis bagi pengembangan usaha baru.
Apalagi dengan dukungan sarana dan prasarana infrastruktur, termasuk pembangunan tiga ruas jalan tol, Kabupaten Pasuruan diyakini bakal berkembang menjadi segitiga berlian. “Kabupaten Pasuruan memiliki added value (nilai tambah) yang semakin baik. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang di atas 7% melebihi pertumbuhan ekonomi Jatim,” kata Kresnayana Yahya pada Bussines Gathering yang diselenggarakan Pemkab Pasuruan.
Berdasar data kependudukan, kata Kresnayana, dari jumlah penduduk sekitar 1,5 juta jiwa, sebanyak 1 juta di antaranya merupakan warga angkatan kerja usia produktif. Jumlah pekerja yang besar ini hanya menanggung kebutuhan ekonomi setengah dari usia produktif tersebut. Nilai upah minimum kabupaten (UMK) yang mencapai Rp2,7 juta per bulan, diyakini Kresnayana bukan menjadi kendala bagi investor. Sebab nilai UMK yang tinggi diimbangi dengan ketersediaan sarana dan infrastruktur memadai.
“Dukungan ketersediaan bahan bakar gas, potensi air yang bersih, serta transportasi yang mudah, justru menjadi faktor efisiensi dalam investasi. Kabupaten Pasuruan akan menjadi pusat suplay chain yang mengintegrasikan hasil produksi pabrik langsung ke konsumen,” kata Kresnayana. Agar pelaku bisnis tidak ragu-ragu berinvestasi di Kabupaten Pasuruan, Kresnayana mendorong Pemkab Pasuruan bergerak cepat mengembangkan potensi ekonomi, khususnya di kawasan exit tol.
Dengan cara ini hasil produksi dari ribuan pabrik di Kabupaten Pasuruan bisa langsung didistribusikan tanpa harus lebih dulu masuk pergudangan di Surabaya. “Kota Bangil dan Pandaan harus didorong menjadi urban area yang menarik dengan dukungan sarana memadai. Kawasan pergudangan harus dibangun untuk mengintegrasikan seluruh hasil produksi menjadi pusat suplay chain ,” ujar dia.
Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf dalam kesempatan sama menyatakan, bakal mengevaluasi tata ruang secara menyeluruh guna mendukung pengembangan potensi ekonomi jangka panjang. Dia sepakat bahwa dukungan sarana prasarana dan infrastruktur jalan tol serta ketersediaan pasokan gas akan menjadi daya tarik bagi investor. “Kami akan membuat cluster- cluster pengembangan kawasan industri, khususnya di kawasan timur Kabupaten Pasuruan.
Layanan perizinan yang mudah dan cepat akan membantu investor dalam pengembangan usaha barunya di Kabupaten Pasuruan,” kata Irsyad. Menurut Irsyad, ekonomi Kabupaten Pasuruan memang sedang tumbuh sangat bagus. Hal ini bisa dilihat dari jumlah pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor industri yang dalam beberapa tahun belakangan meningkat antara 20-30%. Irsyad membeberkan pada 2013, PAD dari sektor ini menyumbang PAD sebesar Rp10 triliun. Jumlah ini meningkat menjadi Rp13,5 triliun pada 2014.
“Pada 2015, saya menaikkan target sekitar 20% atau sekitar Rp16 triliun. Salah satu strateginya adalah pengembangan kawasan timur. Karena kawasan ini adalah jalur utama perdagangan di Jawa Timur yang menjangkau Banyuwangi, Bali, dan Lombok,” kata Irsyad.
Sumber :
http://www.koran-sindo.com/read/1001286/151/pasuruan-pas-untuk-investasi-1431652088
Krisis Air di Pasuruan
23 Desa di Kabupaten Pasuruan Terancam Kekeringan
Meski memiliki sumber air melimpah, sebanyak 23 desa di 7 kecamatan di Kabupaten Pasuruan terancam kekeringan. Desa-desa tersebut berada di Kecamatan Lumbang, Lekok, Pasrepan, Grati, Winongan, Puspo dan Kejayan.
"23 di 7 kecamatan rawan kekeringan. Distribusi air dari BPBD akan dimulai Agustus, sedangkan dari PDAM dan Cipta Karya sudah berlangsung," kata Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan, Bakti Jati Permana, Minggu (26/7/2015).
Bakti menjelaskan distribusi air yang dikoordinasi BPBD memiliki standarisasi tertentu, misalnya harus ada kejadian luar biasa yang bisa dianggap sebagai bencana kekeringan.
"Juga harus ada permintaan dari pihak desa atau kecamatan. Syaratnya penduduk setempat diketahui harus mendapatkan air bersih minimal sejauh 3 kilometer," jelasnya.
Menurut Bakti, konsentrasi program BNPB pada 2015 ini bukan pada distribusi air bersih melainkan pembangunan sarana prasarana jaringan air bersih seperti pipanisasi dan pengadaan pompa plus tandon air.
"Itu akan lebih bermanfaat dibanding dropping air karena sebenarnya Kabupaten Pasuruan ini tidak kekurangan air hanya perlu membangun sarana prasarana," tandas Bakti.
Dari pihak Cipta Karya, pembangunan sarana prasarana air bersih sudah masuk dalam proses tender. Sementara untuk BPBD menunggu finalisasi.
"Selasa besok finalisasi masing-masing usulan dari BPBD kabupaten/kota di BPBD Provinsi Jatim," pungkasnya.
Sumber :
http://news.detik.com/berita/2975494/23-desa-di-kabupaten-pasuruan-terancam-kekeringan
Meski memiliki sumber air melimpah, sebanyak 23 desa di 7 kecamatan di Kabupaten Pasuruan terancam kekeringan. Desa-desa tersebut berada di Kecamatan Lumbang, Lekok, Pasrepan, Grati, Winongan, Puspo dan Kejayan.
"23 di 7 kecamatan rawan kekeringan. Distribusi air dari BPBD akan dimulai Agustus, sedangkan dari PDAM dan Cipta Karya sudah berlangsung," kata Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan, Bakti Jati Permana, Minggu (26/7/2015).
Bakti menjelaskan distribusi air yang dikoordinasi BPBD memiliki standarisasi tertentu, misalnya harus ada kejadian luar biasa yang bisa dianggap sebagai bencana kekeringan.
"Juga harus ada permintaan dari pihak desa atau kecamatan. Syaratnya penduduk setempat diketahui harus mendapatkan air bersih minimal sejauh 3 kilometer," jelasnya.
Menurut Bakti, konsentrasi program BNPB pada 2015 ini bukan pada distribusi air bersih melainkan pembangunan sarana prasarana jaringan air bersih seperti pipanisasi dan pengadaan pompa plus tandon air.
"Itu akan lebih bermanfaat dibanding dropping air karena sebenarnya Kabupaten Pasuruan ini tidak kekurangan air hanya perlu membangun sarana prasarana," tandas Bakti.
Dari pihak Cipta Karya, pembangunan sarana prasarana air bersih sudah masuk dalam proses tender. Sementara untuk BPBD menunggu finalisasi.
"Selasa besok finalisasi masing-masing usulan dari BPBD kabupaten/kota di BPBD Provinsi Jatim," pungkasnya.
Sumber :
http://news.detik.com/berita/2975494/23-desa-di-kabupaten-pasuruan-terancam-kekeringan
Subscribe to:
Posts (Atom)
Related Posts
-
Ibu Pasuruan, Bapak Pekalongan, Lahir Pendiri Go-Jek Nadiem Makarim Pendiri dan CEO Go-Jek Nadiem Anwar Makarim lahir pada 4 Juli 1984 ...
-
Bagi Anda yang lagi menempuh perjalanan ke arah tapal kuda (Wilayah Pasuruan ke arah timur), mendadak ingin makanan yang menggoda selera,...
-
Carrefour Buka Gerai di Pasuruan Senin, 08/08/2011 19:45 WIB PT Carrefour Indonesia akan kembali membuka gerai terbarunya di Pasuruan,...
-
Dorong Laju Perekonomian, Pasuruan Akan Bangun Dermaga Dalam rangka untuk mendorong laju perekonomian yang ada di Kabupaten Pasuruan. B...
-
Ini Kata Satgas Covid-19 Kabupaten Pasuruan soal Jumlah ODP-PDP Paling Rendah di Jatim 4 April 2020 Angka Orang Dalam Pemantauan (ODP...



